Jumat, 14 Mei 2010

Lelahnya Ngurus Pemberkasan


Bagi seorang guru PNS, yang namanya pemberkasan bukan istilah baru. Dulu saat awal diterima jadi pegawai, syarat pertama adalah pemberkasan. Bikin stress, emang. Ternyata setelah jadi guru PNS, yang namanya pemberkasan ini masih menjadi momok seram bagi guru. Mulai saat sertifikasi, pencairan tunjangannya, hingga yang terakhir kemarin pemberkasan data-data guru. Entahlah untuk apa ini, tapi sungguh sangat melelahkan, apalagi bagi yang kurang tertib administrasi kayak saya.

Saya yang lagi menjalani perawatan karena sakit dispesia (mag) akut langsung kambuh tak bisa bagun lagi. Untung ada istri saya yang seorang adminstrator di pemerintah kota. Jadinya aku pasrah bongkokan sama dia, selain itu dibantu oleh teman saya Pak Pran. Thank, semua udah teratasi.

Jumat, 08 Mei 2009

Pelatihan LPIR di SMP 5 Kota Mojokerto

MULYOTO

Kemarin (Jumat, 8 Mei) saya menjadi narasumber dalam pelatihan LPIR bagi siswa SMP se-Kota Mojokerto di SMP Negeri 5. Pesertanya adalah para siswa anggota tim LPIR SMP di Kota Mojokerto.
Bagi saya, ini adalah pertama kali. Biasanya, saya hanya membimbing sekelompok siswa dari suatu sekolah. Tapi senang juga. Peserta nampaknya sudah siap dengan konsep karya tulis masing-masing.
Satu prinsip saya, menulis -termasuk karya tulis penelitian- adalah kerja praktik. Saya tidak boleh terlalu banyak berteori. Saya hanya memantapkan semangat para peserta, lalu mencoba memberikan trik-trik praktis cara melaksanakan penelitian. Kemudian justru para peserta yang saya minta mempresentasikan konsep metah karya tulisnya. Di sinilah para siswa terlibat aktif.
Menurut drh. Wiwiek Herwiningtyas, guru SMP TNH yang menggagas acara ini, kegiatan ini dilaksanakan dalam mempersiapkan anak-anak Mojokerto dalam ajang bergengsi LPIR yang digelar Depdiknas. "Selama ini, Kota Mojokerto belum banyak berbicara dalam event bergengsi ini," ungkapnya.
Melalui pembinaan yang terarah dari Dinas P dan K Kota Mojokerto, diharapkan, nantinya ada beberapa siswa yang masuk final di Jakarta.
Kegiatan ini juga berlanjut dengan pembinaan lanjutan dan presentasi karya tulis untuk menetapkan tiga juara tingkat kota.
"Sebagai motivasi, tiga besar peserta di tingkat kota nanti juga akan mendapat hadiah. Tapi semua peserta dikirim ke panitia LPIR Jakarta," kata Bu Wiwiek.

Minggu, 04 Januari 2009

Emang, Guru Itu Burung

MULYOTO

Saya sangat bangga kalau ada anak didik saya, siswa saya atau orang yang saya kenal menulis dan dimuat di media massa. Saya akan membaca tulisan itu dan selalu memberi apresiasi positif. Minimal, saya akan menegur dan mengucapkan selamat. Bagi saya, keberhasilan menulis di media massa menunjukkan semangat untuk menjadi seorang penulis.

Kali ini, saya perlu angkat topi yang setinggi-tingginya pada anak-anak SMA Al-Multazam, yang telah menulis di Radar Mojokerto pada Rubrik Koran Sekolah. Tulisan itu enak dibaca. Terasa mengalir dan sangat ringan. Isinya adalah tentang sosok guru yang bagaimana yang diinginkan oleh siswa. Yaitu guru yang tidak ngebosenin, yang metodenya variatif dan menyenangkan. Siswa tidak suka terhadap guru yang hanya monoton dan (maaf) ngoceh doang.

Maka, tulisan feature cenderung opini itu pun berjudul: "Guru Ngoceh Terus, Bosen Ah!!!". Saya geli, agak kaget, dan sedkit was-was membaca judul ini. Kalo guru bisa ngoceh, emang guru itu burung, ya?

Saya was-was kalo ada guru yang tersinggung. Apapun yang dilakukan guru, apa pun metodenya, bagaimana pun performansinya, niatnya hanya satu anakku: ingin anak-anaknya mendapatkan ilmu yang diajarkannya. Jadi, mustahil, ada guru yang pantas disamakan dengan burung.

"Ah, ini kan bahasa jurnalistik. Judul yang provokatif dan terkesan menghina itu mungkin dibuat oleh redaksi koran, tanpa ada maksud menghina guru," itulah kata hati saya menghibur diri. Dan saya yakin, tidak ada siswa saya yang dengan sengaja melakukan penghinaan atas gurunya. Semoga saja seperti itu

Sekali lagi, guru akan merasa senang menyerahkan segenap ilmunya kalau siswa memang membutuhkan, tapi guru akan merasa berat untuk berjalan ke sekolah ketika membayangkan ana-anak didiknya akan cuek dan mengacuhkannya. Kita semua paham, guru manusia biasa, tapi bukan burung yang bisa ngoceh!

Tetap semangat!

Rabu, 24 Desember 2008

Olimpiade Fisika tingkat nasional untuk SMA

Ada info menarik bagi siswa SMA sederajat dari ITS. Yaitu Olimpiade Fisika tingkat Nasional 2009. Info lengkapnya klik di sini: http://www.its.ac.id/pengumuman/poster%20pekan%20fisika_.jpg
Ikut ya!

Kamis, 04 Desember 2008

Sepotong Surat dari Porong


MULYOTO

Surat ini kutujukan buat siapa saja yang masih mampu mendengar
Detak jantungnya sendiri
Mampu mendengar tembang lirih dari relung hati

Kami anak-anak Jatirejo, Renokenango, Siring, dan desa-desa yang
Kena luberan lumpur panas
Apa salah kami hingga sekolah, rumah dan tempat bermain kami tenggelam

Apa salah kami,
Pagi-pagi kami melihat semuanya lenyap
Tinggal bayang-bayang kenangan yang bikin kami hilang

Apa salah kami?
Hingga burung-burung gagak berputar-putar
Di atas desa kami
Dengan suaranya yang serak?
Sedang kami hanya mampu melihatnya dengan penuh tanda tanya

Sepotong surat ini,
Kukirim buat Bapak Presiden
Yang terhormat

Mohon kiranya berkenan
Memberi solusi
Atas apa yang menimpa kami

Kami anak-anak adalah generasi sah negeri ini
Yang berhak hidup layak
Tidak seperti di pengungsian yang kotor dan lembab

Bapak Presiden,
Lihatlah, demi cinta kami kepada Bapak,
Kami tidak rela foto bapak tenggelam juga dalam lumpur
Bapak juga mencintai kami, bukan?
Kami adalah anak-anak pemilik sah negeri ini

Mengembangkan Pariwisata Ramah Lingkungan di Pacet

Oleh Mariatul Qibthiyah
Siswi Kelas X SMA Al-Multazam

Pacet, merupakan salah satu daerah di Mojokerto yang terkenal dengan pariwisata ramah lingkungan. Antara lain Taman Ubalan, Pemandian Air Panas, dan Air Terjun Coban Canggu. Tidak hanya objek pariwisata itu saja, tetapi pemandangan dan suasana alamnya yang sejuk dan asri membuat orang tertarik untuk mengunjunginya.

Memang, tempat wisata itu cocok buat refreshing, penghilang rasa jenuh, atau seringkali sebagai tempat berkemah dan outbond bagi para pelajar.
Tapi, kini ketertarikan pengunjung terhadap objek wisata pacet menurun. Mengapa demikian? Hal ini disebabkan oleh kurangnya perhatian pemerintah dan kesadaran masyarakat terhadap kelestarian alam tersebut.
Ubalan, salah satunya. Objek pariwisata tersebut memang dulunya penuh dengan wisatawan. Tapi, sekarang pengunjung pada hari biasa hanya berkisar sebanyak 10-50 orang per hari.
Yang menyebabkan berkurangnya pengunjung adalah wahana permainan yang berkurang dan tidak terawatnya pemandangan. Seperti kolam renang yang kotor dan permainan air yang banyak rusak. Begitu pun Air Terjun Coban Canggu yang sekarang menjadi salah fungsi. Objek pariwisata ini kebanyakan dipenuhi oleh pemuda-pemudi yang berpacaran atau pun berhubungan seks.
Ditambah lagi dengan penebangan pohon secara liar dan pembakaran hutan yang menyebabkan hutan menjadi gundul. Memang, penebangan pohon bertujuan untuk membuka lahan baru untuk pembangunan villa. Tetapi dengan adanya seperti itu malah membuat paru-paru dunia menjadi tak berfungsi karena tidak diadakan reboisasi atau tebang pilih.
Akibatnya terjadilah berbagai bencana alam karena daya resap air pada pohon berkapasitas kecil. Seperti longsor yang terjadi sekitar 5 tahun silam yang memakan banyak korban. Tidak cukup sampai di situ, tetapi juga mengakibatkan banjir lumpur yang meluap sampai daerah Sooko dan sekitarnya.
Untuk itu, pemerintah seharusnya turut campur tangan dengan adanya masalah seperti ini. Tetapi, masyarakat juga harus turut terlibat dalam melestarikan lingkungan hidup.
Pemerintah sebenarnya mempunyai banyak program tentang pengembangan wisata di Mojokerto. Pemandian Air Panas misalnya, kini pemerintah berusaha dengan maksimal untuk memperbaiki wanawisata tersebut pasca longsor.
Selain itu, pemerintah juga mempunyai rencana untuk membangun “Jatim Park 3” di Desa Cembor, Pacet. Yang lebih mengutamakan nilai natural alamnya dan ditambah dengan wahana permainan seperti Jatim Park lainnya.
Ini merupakan berita hangat bagi masyarakat Mojokerto sendiri karena apabila program tersebut terlaksakan, maka akan membawakan pendapatan yang sangat besar sekaligus memperkenalkan Mojokerto kepada masyarakat luar bahwa Mojokerto merupakan kota pariwisata.
Ada juga rencana pembangunan wisata air bernama Arung Jeram sepanjang 2-3 km di aliran Kali Kromong. Sungguh menarik bukan ? Tetapi, semua rencana itu masih dalam tahap “Pembuatan Proposal”.
Memang banyak sekali kendala-kendala dalam pembangunan pariwisata tersebut. Antara lain memerlukan dana yang cukup besar dan Sumber Daya Manusia yang kurang mendukung.
Alangkah baiknya apabila terdapat “Kelompok Sadar Wisata” yang menarik kesadaran masyarakat terhadap Pariwisata Hijau Pacet. Seperti aktivitas ramah tamah terhadap wisatawan lokal dan asing, penjualan bahan makanan yang higienis, perawatan kebersihan lingkungan, dan kelestarian alam.
Dengan adanya perhatian lebih dari pemerintah dan kesadaran masyarakat akan mendukung terwujudnya pembangunan pariwisata ramah lingkungan. “Sadar wargaku, lestari alamku”.

Mencari Ikon Baru untuk Mojokerto

Risyda Zulfiyatush Sholihah
Siswa Kelas XI SMA Al-Multazam

Mojokerto adalah salah satu daerah yang berada di Propinsi Jawa Timur. Sebuah daerah yang tidak terlalu besar tetapi pernah meraih Adipura. Meskipun tidak terlalu besar, tidak disangka kota ini memeiliki potensi besar sebagai pengembangan pariwisata dalam negeri.
Konon, Mojokerto terkenal sebagai “Kota Onde – Onde”. Hal itu dikarenakan makanan khas Mojokerto adalah onde–onde. Selain itu, masyarakat daerah lain mengenal bahwa onde–onde itu lahir dari Mojokerto. Jadi sudah selayaknya onde–onde dijadikan sebagai ikon Mojokerto.
Tetapi pada kenyata-annya pada saat ini, seiring perkembangan zaman onde–onde sudah terkikis keberadaannya. Kentucky, pizza, spaghetty, hamburger dan lain – lain adalah sebagian contoh dari beribu makanan asing yang telah menggeser posisi onde – onde.
Hal itu sudah tidak bisa disangkal lagi karena kebanyakan masyarakat terutama remaja akan merasa bangga kalau mereka dapat atau pernah mengkonsumsi makanan–makanan asing tersebut daripada onde – onde yang notabenenya merupakan ikon daerah sendiri.
Hal ini memang kecil kelihatannya, tetapi apabila hal itu terus dibiarkan maka secara berangsur–angsur kebanggaan kita akan ikon onde–onde akan terkikis dan lama kelamaan akan menjadi hilang.
Memang tidak seharusnya kita menutup diri dari budaya asing dari segi apapun tetapi alangkah arifnya apabila sebagai generasi muda bangsa dapat mengontrol diri untuk mempertahankan ikon Mojokerto.
Hingga kini ikon Mojokerto “Onde–Onde” hanya tinggal namanya saja, tanpa ada kebanggaan yang terkandung di dalamnya. Baru –baru ini muncul isu ikon baru untuk Mojokerto, yaitu Mojokerto sebagai “ Kota Sepatu”. Hal ini dikarenakan kebanyakan para wirausahawan di Mojokerto membuka usaha industri sepatu sehingga kini Mojokerto terkenal karena produksi sepatunya.
Tetapi ikon “Kota Sepatu” bagi Mojokerto agaknya kurang tepat karena sepatu di Mojokerto belum mempunyai ciri khas. Selain itu, masih banyak daerah lain yang terkenal karena sepatunya. Misalnya Sidoarjo, Surabaya, dan Jombang. Bahkan kota tersebut lebih besar dan lebih terkenal akan produksi sepatunya daripada Mojokerto. Dengan demikian, “Kota Sepatu” sebagai ikon Mojokerto sebenarnya kurang tepat karena hal ini tidak menampakkan kekhasan dari Mojokerto. Hal ini dapat dijadikan nilai minus bagi Mojokerto.

Ikon Baru
Ikon adalah suatu lambang yang mengandung nilai kebanggan yang tersirat di dalamnya. Jadi apabila ingin mencari ikon bagi Mojokerto maka sudah seharusnya kita menelaah atau mengambil dari apa yang telah dimiliki oleh Mojokerto.
Sampai saat ini Mojokerto terkenal sebagai daerah yang menjadi pusat Kerajaan Mojopahit. Kerajaan yang pernah jaya menguasai Nusantara di bawah kepemimpinan Hayam Wuruk dan patihnya, Gajah Mada. Trowulan sebagai pusat kerajaan Mojopahit tentunya memiliki nilai historis yang tinggi. Dari Trowulan inilah nantinya dapat dikembangkan sebagai wisata budaya di Mojokerto. Karena selain memiliki nilai historis yang tinggi, masyarakat di Indonesia bahkan dunia mengenal bahwa pusat Kerajaan Mojopahit itu dulunya ada di Mojokerto. Jadi dari sini dapat disimpulkan bahwa Mojokerto mendapatkan ikon baru yaitu “Mojokerto sebagai Wisata Mojopahit”.
Di daerah Trowulan banyak sekali masyarakat yang menjalani usaha sebagai pemahat patung. Jika dilihat dari sisi ekonomi, tentu ini akan turut menambah devisa Mojokerto.
Tetapi dalam segi pariwisatanya, tentu hal ini merupakan fenomena yang bagus. Dari kenyataan yang ada, para pemahat patung tersebut memang mempunyai andil yang besar bagi majunya wisata majapahit Mojokerto karena dulunya Mojopahit adalah kerajaan hindu. Tetapi banyak patung – patung pahatan mereka yang dikirimkan ke luar jawa atau bahkan ke luar negeri. Kebanyakan dari mereka mengirim patung – patung tersebut ke Bali. Dan di Bali, patung – patung tersebut dikumpulkan untuk mengadakan pameran budaya Mojopahit.
Padahal pada kenyataannya, para pemahat patung masyarakat Bali itu tidak bisa memahat patung sebagus apa yang telah dipahat oleh orang Mojokerto. Hal ini dapat membahayakan bagi Mojokerto dari segi apapun. Dari segi devisa, Mojokerto akan kehilangan kesempatan untuk dikenal dan diakui oleh masyarakat dunia sebagai sentral Kerajaan Mojopahit. Sehingga itu dapat meminimaliskan para wisatawan asing maupun wisatawan domestik yang ingin mengetahui tentang Mojopahit.
Dari segi budaya, tentu hal itu mempunyai dampak negatif yang besar karena secara tidak langsung budaya itu kan hilang dan tamatlah ikon “Mojokerto sebagai Wisata Mojopahit”.
“Hingga kini ikon Mojokerto “Onde–Onde” hanya tinggal namanya saja, tanpa ada kebanggaan yang terkandung di dalamnya. Baru –baru ini muncul isu ikon baru untuk Mojokerto, yaitu Mojokerto sebagai “ Kota Sepatu”. Hal ini dikarenakan kebanyakan para wirausahawan di Mojokerto membuka usaha industri sepatu sehingga kini Mojokerto terkenal karena produksi sepatunya.”
Dalam rangka mengembangkan wisata Mojopahit, alangkah baiknya apabila pemerintah mau mengulurkan tangannya bagi para pemahat patuung tersebut. Misalnya dengan cara mengumpulkan para pemahat kayu dalam satu forum dan dari hasil pahatan tersebut akan diadakan pameran patung yang identik dengan budaya Indonesia. Program ini tentunya memiliki banyak dampak positif misalnya para pemahat patung tersebut akan merasa terbantu dari segi ekonomi kehidupan dan dalam diri mereka nantinya akan muncul rasa kebanggaan tersendiri karena mereka ikut andil dalam melestarikan budaya Mojopahit yang dibanggakan oleh Mojokerto.
Dari segi pemerintah pun memiliki dampak yang positif juga. Misalnya pemerintah dapat turut andil dalam memecahkan masalah pengangguran karena para pemahat patung tersebut tentunya akan merasa dipandang dan diperhatikan apabila mereka dikumpulkan dalam suatu lembaga yang bergerak dalam kesenian pahat memahat.
Jadi mereka akan merasa bangga dan apabila mereka merasa bangga maka akan tumbuh kreativitas yang lebih menarik lagi dan akan tercipta keindahan untuk mempercantik peninggalan Mojopahit tersebut. Selain itu dapat juga menambah pemasukan bagi pemerintah daerah Mojokerto karena dari patung – patung yang telah mereka pahat dapat dikumpulkan dan dapat diadakan pameran patung. Dari pameran itulah akan banyak para wisatawan baik itu wisatawan domestik maupun wisatawan asing yang berkunjung untuk melihat pameran patung tersebut.
Dengan demikian, ikon Mojokerto yang sesungguhnya adalah Wisata Mojopahit karena tidak ada daerah di bumi pertiwi ataupun di daerah belahan dunia yang lain yang memiliki peninggalan Kerajaan Mojopahit yang lebih tinggi dari Mojokerto.
Bagaimana pendapat Anda? []

Blog sebagai Media Pembelajaran


MULYOTO

Di samping membawa dampak negatif, teknologi internet sebenarnya juga menawarkan banyak hal positif. Lewat website pribadi (blog), misalnya, kita dapat mempublikasikan pikiran kita secara bebas dalam waktu cepat yang bisa diakses secara luas. Interaksi antarblogger sebagai sesama insan belajar terjadi dengan intensif, melampaui batas-batas ruang dan waktu.

Dalam konteks pembelajaran berbasis baca tulis, media blog layak untuk kita akomodasi dalam kegiatan pembelajaran. Teknisnya, siswa diberi tugas untuk mencari dan membaca informasi dari internet. Selanjutnya, hasil bacaannya itu harus ditulis dan dipublikasikan ke dalam blog.

Istilah pembelajaran berbasis baca tulis ini saya adopsi dari istilah Hernowo yang terkenal dengan teknik mengikat makna. Menurutnya, untuk dapat mengikat makna dari apa-apa yang kita baca, kita harus melanjutkan kegiatan membaca itu dengan menulis.
Ternyata, cara ini cukup efektif. Saya telah mencoba menerapkan metode pembelajaran ini dalam kegiatan ekstrakurikuler jurnalistik di SMP Negeri 1 Kota Mojokerto pada kelas SBI (Sekolah Bertaraf Internasional). Terlihat jelas, kegiatan belajar menjadi hidup. Siswa terpacu untuk mengekspresikan diri dalam bentuk tulisan, baik berita, opini, puisi, kisah pribadi, dan sebagainya.

Untuk menghasilkan tulisan, aktivitas membaca yang dilakukan siswa tidak sekadar bersifat konsumtif. Kegiatan mereka adalah kegiatan produktif, yaitu menghasilkan karya tulis. Akibatnya, secara bertahap kualitas intelektual siswa meningkat. Ini terlihat dari kemampuan mereka membuat tulisan yang runtut, logis dan sistematis.

Awalnya, tulisan siswa memang terkesan seadanya. Ada yang sekadar mem-publish puisi cinta. Ada yang mencoba menulis berita bercampur opini tentang kegiatan sekolah. Bahkan ada yang menulis kisah sedih tentang temannya yang menderita leukimia.
Jangan dipatahkan dengan vonis jelek. Beri apresiasi secara positif. Ungkap kelebihan-kelebihannya, dan beri motivasi untuk membuat tulisan yang lebih baik. Begitu seterusnya, melalui latihan berulang-ulang, siswa akan mengalami kemajuan yang pesat.

Harus diakui, selama ini dunia pendidikan kita belum banyak memberi ruang ekspresi bagi anak didik. Pembelajaran sering berjalan satu arah: dari guru ke siswa. Dalam pembelajaran seperti ini, anak didik diperlakukan sebagai botol kosong yang mesti diisi oleh guru. Siswa sebagai pencari ilmu bersikap menunggu.

Maka, hasilnya adalah anak-anak yang manis tapi gagu menatap masa depan. Ketika lulus dan mendapati dunia kerja yang jauh dari bayangan, mereka tidak mampu berbuat apa-apa. Alih-alih menciptakan lapangan kerja, mereka menjadi pengangguran yang menjadi beban negara.

Tentu, metode pembelajaran yang demikian harus kita ubah. Di era informasi, dunia berubah dengan sangat cepat. Ilmu pengetahuan dan teknologi sama cepatnya bergerak maju. Dalam kondisi begini, tentu tidak relevan lagi kita menjejalkan ilmu kepada anak didik. Yang terpenting, anak didik harus memiliki ketrampilan mencari dan mengembangkan ilmu itu secara mandiri.

Nah, pembelajaran yang merangsang siswa untuk berpikir melalui media blog, kiranya bisa dijadikan salah satu alternatif. Bagaimana menurut Anda?

(Dimuat di Surya, 3 Desember 2008)

Kamis, 20 November 2008

Rumah Pertama

Jangan tanyakan lagi,
angin yang spoi
seperti panah beracun yang merajam tubuhku

Pagi hari saat bangun
kucari garis-garis matahari
bakarlah rasa sakit bersama bidadari yang pergi tadi

Jangan tanyakan lagi
perih ini, luka ini
harus kuhapus dengan apa
dengan mantra segala dupa
atau biarkan tuk nikmati saja

Pagi hari selalu begini
setelah malam terlelap bersama mimpi-mimpi
yang tak berarti
seperti film tanpa sutradara
menyala dalam gelap
yang muncul seenaknya
mimpi apa ini

hidup terasa penat amat

Rabu, 05 November 2008

Kiat Bikin Presentasi

Kalau suatu saat karya tulis kamu masuk nominasi dan kamu dipanggil untuk presentasi, maka kamu harus siap. Tentu saja, kesiapan itu meliputi penguasaan materi, media presentasi dan teknik menjawab pertanyaan dewan juri.
Berikut beberapa tips tentang teknik presentasi.
1. Batasi waktu, jangan terlalu berpanjang lebar. Biasanya, 15 menit sudah cukup. Sebelum tampil, usahakan benar-benar sudah dicek waktu presentasi tepat waktu 5 menit.
2. Gambar atau foto, atau denah lebih berbicara daripada kata-kata tertulis. Makanya, usahakan dalam presentasi kamu, ditampilkan gambar, foto maupun denah.
3. Ucapkan kata-kata, kalimat-kalimat saat presentasi secara sistematis, logis, singkat dan padat.
4. Harus terbuka saat menerima kritik dari dewan juri. Pada dasarnya, kita harus tahu arah pertanyaan dewan juri: menguji, benar-benar bertanya karena tidak tahu, atau untuk memberi masukan. Kalau tujuannya memberi masukan, dan itu baik, kamu tidak boleh menolaknya dengan ngotot bahwa pendapatmu yang paling benar.

Minggu, 07 September 2008

Belajar Berbasis Baca Tulis, Sebuah Pendekatan Efektif


Mulyoto

Inilah menurut saya metode belajar yang efektif: belajar berbasis baca tulis. Dalam belajar, kita mesti banyak membaca. Membaca apa saja: buku, majalah, teks, buku pelajaran, buku matemayika, fisika, novel, koran, cerpen. Apa saja. Juga membaca alam sekitar, kejadian-kejadian keseharian. Nah, kalau kita sudah banyak membaca apa-apa yang menjadi pusat perhatian kita, biasanya proses selanjutnya adalah kontemplasi atau perenungan. Di sini pikiran dan perasaan kita mereaksikan apa-apa yang kita baca, menganalisis dan mensintesis serta mengendapkan intisari ilmu pengetahuan dan makna-makana baru. Inilah yang kemudian harus kita tuliskan. Kita ekspresikan.

Dalam buku saya berjudul: "Hari Ini Gak Punya Majalah Sekolah? Bikin, Yuk! (Andi Yogya, 2007) hal ini telah saya bahas. Dalam konteks ini, majalah sekolah menjadi urgen sebagai salah satu media ekspresi diri para siswa. Jadinya, siswa tidak sekadar melakukan kegiatan baca, tetapi berlanjut hingga menulis.

Dari pengalaman, metode belajar yang mengoptimalkan kegiatan baca sekaligus menulis ini sangat efektif. Hasilnya lebih bermakna, dan mampu meningkatkan kualitas intelektual kita. Mau coba? Gampang aja. Jangan takut menulis, mengekspresikan pikiran dan perasaan. Entah itu lewat majalah sekolah, mading, blog, atau bahkan diary. Ungkapkan dengan bebas apa-apa yang mengendap dalam pikiran dan perasaanmu!

Kamis, 21 Agustus 2008

Hanya Puisi

Mulyoto

Aku hanya menulis puisi
Mau gimana lagi
Ketika kemarau membakar pohon jati
dan kelelahan merambat di sepanjang pembuluh darah
aku hanya bisa pasrah

Wahai jantungku
berat nian kerjamu untuk menopangku
Maaf, aku hanya bisa bikin puisi
Apalah maknanya
Mungkin tak ada

Kamis, 14 Agustus 2008

Puisi di Hari Kemerdekaan

Mulyoto

Di sepanjang Jl. nawawi
Hingga majapahit di pusat kota
Ketika bendera berkibar-kibar berderet-deret
Ada deru dari tiupan angin dingin musim kemarau
Aku mash bisa mendengarmu
sayup-sayup ketika teriakan merdeka membahana

Kau kini tinggal tulang-tulang diliputi debu, kata Chairil Anwar
Namun engkau adalah kepunyaan kami
Biarlah jam dinding berdetak
Seperti detak jantungku

Engkau tetap kukenang
hanya dengan menundukkan kepala
dan menggemuruhkan dada

Hanya ini yang kubisa
menulis puisi tanpa sistematika
tanpa jiwa (?)

Ah, pahlawanku
aku tahu, kau tak berharap apa-apa
tapi aku hanya bisa berdoa
semoga Allah menempatkanmu di dalam rengkuh kasih-Nya
Amin

Meredeka!

Senin, 04 Agustus 2008

Informasi untuk KIR SMP Negeri 1 Kota Mojokerto

Berhubung sebagian besar siswa kelas 7 dan 8 berminat untuk ikut KIR dan rasanya tidak tega untuk menolak minat itu, disepakati dengan Pak Mulib bahwa kelas 7 dan 8 program SBI semua ikut kegiatan KIR akan tetapi dipecah jadi dua kelas.
1. Kelas I: khusus untuk kelas 7A dan 7B dengan fokus kegiatan kepenulisan jurnalistik (jadwal minggu pertama dan ketiga)
2. Kelas II: khusus untuk kelas 8A dan 8B dengan fokus kegiatan karya tulis ilmiah (jadwal minggu kedua dan keempat)

Terima kasih dan tetap semangat.

Minggu, 27 Juli 2008

Bagian-Bagian Karya Tulis Kajian Pustaka

Cover
Halaman Pengesahan
Abtrak
Daftar Isi
Daftar Tabel (bila ada)
Daftar Gambar (bila ada)

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan
D. Manfaat
E. Metode Penelitian

BAB II PEMBAHASAN
A. Judul sesuai dengan Rumusan Masalah 1
B. Judul sesuai dengan Rumuasn Masalah 2
C. dan sterusnya

BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran

Tugas untuk KIR SMP Negeri 1 Mojokerto: Buat judul, dan point-point pada pendahuluan meliputi: latar belakang, rumusan masalah, tujaun, manfaat, dan metode penelitian.
Diketik dengan komputer Word dan dikirim ke email: berlianaputri@yahoo.com, atau boleh ditulis tangan dan dikumpulkan hari Kamis pukul 13.30. Tugas ini akan dijadikan bahan seleksi untuk menentukan peserta KIR yang benar-benar berminat dan punya potensi.

Jumat, 18 Juli 2008

Menulis, Untuk Apa?

Ada orang yang pinter menulis. Ada yang tidak. Jangankan menulis artikel atau cerpen, menulis diary saja macet. Kok bisa, ya?

Menurut saya, orang trampil menulis atau tidak, semua tergantung latihan. Kalau mau berlatih, pasti menulis menjadi kegiatan yang gampang. Tapi kalau gak mau berlatih, gak mau mencoba praktik, ya selamanya menulis hanya menjadi cita-cita dan angan-angan belaka.

Dari pengalaman sich, motivasi sangat penting bagi seorang penulis. Mau jadi penulis, apa motivasimu? Seberapa kuat motivasi itu?

Kalau saya terus terang, motivasi dalam menulis adalah untuk mendapat uang. Saya sebenarnya kurang berbakat menjadi penulis. Suatu hari saya membaca majalah, dan pada ruang pembaca ada tanya jawab soal honor tulisan di majalah itu. Saya baru tahu, kalau majalah itu menerima tulisan dari pembaca dan ada honor bagi penulis yang tulisannya dimuat. Pikir saya, berarti saya bisa cari uang dari menulis.

Saat itu, saya masih SMA kelas I. Saya anak petani dan merasa kurang cakap menjadi petani. Jujur, fisik saya tidak kayak ayah saya yang kuat. Saya juga tidak seperti kakak saya yang trampil bekerja. Saya gampang sakit kalau kena panas terik di sawah yang terbentang. Jadi, bayangan saya, kalau saya bisa cari uang dari menulis, saya bisa tunjukkan bahwa untuk bisa hidup tidak harus dengan bekerja menggunakan otot. Pakai otak juga bisa.

Maka, sejak itu saya menjadi tekun membaca berbagai majalah. Saya pelajari secara langsung, kayak apa sih, artikel dan cerpen yang dimuat. Dari belajar secara otodidak, akhirnya beberapa tulisan saya kirim juga. Berkali-kali tidak ada kabarnya.

Hingga suatu saat, semua kelelahan, semua penat, semua rasa putus asa, seolah sirna ketika tulisan pertama saya dimuat. Benar, dapat uang. Saat itu, tahun 1988, honor sebuah artikel di majalah terbitan ibukota sebesar Rp 25.000. Suatu jumlah yang sangat fantastis. Perbandingannya, upah ayah saya kalau disuruh orang mencangkul sawah, satu hari R 1500.

Dan yang lebih penting, ternyata bukan saja soal uang yang membuat saya tambah semangat. Ada kebahagiaan yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Benar, bahagia sekali rasanya. Serasa seperti bermimpi saja.

Dan ajaib, dengan semangat yang tinggi, akhirnya saya mempunyai keberanian untuk kuliah. Nanti, saat kuliah, saya akan membiayai hidup dan kuliah di Malang dengan menjadi penulis. itulah tekad saya. Sebuah tekad yang kalau saya kenang sekarang merupakan sebuah keajaiban. Kadang, terasa mustahil bahwa saya akhirnya bisa selesai kuliah, kini jadi guru, bahkan baru saja menyelesaikan S2. Semua ini berangkat dari sebuah tekad yang muncul karena saya akan menjadi penulis.

Alhamdulillah, saat menjadi guru, semangat saya masih terus menyala. Baik menulis di Kompas, menulis buku, maupun menulis di weblog ini. Saya menulis dengan motivasi yang lebih kuat. selain untuk uang, ya untuk kepuasan. Rasanya plong, kalau uneg-uneg sudah tersalurkan.

Bagaimana pendapat Anda?

Senin, 14 Juli 2008

Romantika pada Saat MOS

Sebenarnya, di balik kesan serem yang muncul pada saat MOS, kadang muncul juga kesan romantis. Banyak kenangan yang bisa diingat saat MOS: baik kenangan pahit, lucu, haru, maupun kenagan-kenangan lain yang seru.

Maka lalui saja masa itu dengan semangat. Jangan merasa beban dengan segala tugas ini dan itu. Jalani dengan anggapan bahwa semua kegiatan sudah dirancang dengan tujuan baik. Yaitu membekali diri untuk bisa masuk dalam sebuah lngkungan yang baru.

Kalau nurutin kejengkelan hati, kadang ya bete juga. Gimana gak jengkel, datang ke sekolah harus pagi-pagi sekali. Udah gitu, kita mesti membawa ini itu yang kadang hanya mengada-ada. Bawa kacang ijo dengan jumlah yang ditentukan sebanyak 1111 1/3. Emang gak repot ngitung sampai seribu sebelas sepertiga. Apa maksudnya.

Di sinilah kadang kita mesti kreatif. Kalau kita gak ingin repot-repot menghitung, ya bawa aja kacang ijo dengan perkiraan, gak usah dihitung. Nanti kalau ditanya, bilang klau jumlahnya sudah segitu. Kalau senior gak percaya, hitung aja sendiri!

Masih banyak romantika saat MOS. Anda punya pengalaman lucu, seru, haru, sebel, atau apa pun soal MOS? Tulis aja pada komentar di bawah ini.

Jumat, 11 Juli 2008

LKTI dan LKWU SLTA se Indonesia

Berhubung banyaknya peminat yang bertanya tentang LKTI dan LKWU yang digelar oleh Magistra Utama pada tahun 2008/2009, berikut saya kutipkan informasi penting dari brosur lomba.

Syarat-Syarat Umum:
1. Peserta adalah siswa/siswi kelas I, II atau III SLTA (SMA/SMK/MA)
2. Karya tulis tansendiri, bukan saduran atau terjemahan atau duplukasi dari karya orang lain.
3. Naskah belum pernah dipublikasikan atau dilombakan.
4. Naskah dikirim lewat pos kepada Panitia LKTI & LKWU Magistra Utama, PO Box 141 malang 65100.
5. Naskah minimal 40 halaman, diketik komputer 1,5 spasi, kuarto/A4, disertai biodata penulis dan tanda tangan guru pembimbing dari sekolah (berstempel), fotocopy raport semesrter terakhir & foto 4x6 berwarna 2 buah.

Syarat Khusus LKTI
a. Naskah berbentu esay atau hasil penelitian empiris.
b. Wajib menyebutkan daftar pustaka. Isi bersifat ilmiah populer atau hasil penelitian teknologi tepat guna.
c. Kriteria penilaian: kesesuaian judul, isi dan maksud tulisan, aktualitas mtode penulisan, mencerminkan semangat anak muda menyongsong masa depan gemilang.

Syarat khusus LKWU
a. Wajib menunjukkan hasil karya, mulai dari proses pembuatan sampai penggunaan alat atau bahan tersebut.
Telah diuji coba dan dianalsis hasilnya dan tidak membahayakan, jika masuk final, peserta wajib membawa sampel produk.
Naskah disertai rencana publikasi dan pemasarannya.
Kriteria penilaian: nilai manfat prduk, nilai ekonomis, orisinalitas, nilai kreativitas, mencerminkan semangat anak muda menyongsong masa depan gemilang.

Hadiah Total:
24,5 juta

Kamis, 10 Juli 2008

Sepasang Mata Kosong

Tiap ajaran baru, saya menjadi salah satu interviwer bagi calon siswa baru dan orang tuanya. Di sekolah kami, seleksi bagi calon siswa baru memang tidak hanya berdasarkan nilai ujian nasional (SKHU), melainkan juga dari tes tulis dan tes wawancara. Meski nilai ujian nasionalnya tinggi, kalau nilai tes tulis dan wawancara jeblog, calon siswa bisa gigit jari alias terdegradasi dari rangking yang lulus.

Meski bobotnya sedikit (10%), panitia sudah berusaha agar hasil tes wawancara bersifat objektif. Maka pertanyaan dan pedoman jawab serta penskorannya dibuat sedemikian rupa. Saya menggunakan instrumen itu untuk mengajukan pertanyan demi pertanyaan.

Karena sudah biasa, maka wawancara berjalan lancar-lancar saja. Hingga suatu saat, ada seorang bapak justru mengajukan pertanyaan kepada saya. "Pak, kalau anak saya diterima di sekolah ini, berapa biaya yang harus saya keluarkan untuk keperluan daftar ulang dan sumbangan dana pengembangan sekolah?"

Saya pun menjawab dengan lancar. Tidak ada masalah. Uang seragam, uang awal tahun ajaran baru sekitar Rp 400.000,00. Lalu uang pengembangan sekolah minimal Rp1.800.000,00 dibayar separuh dulu.

Begitu lancarnya saya menjawab, sampai saya tidak begitu memperhtikan respon si Bapak. Saya baru tersadar akan adanya masalah ketika melihat si Bapak tiba-tiba bengong dengan pandangan kosong. Mata itu masih memandang saya, tapi terlihat pandangannya jauh, entah ke mana. Bibirnya bergetar.

Dan ketika kuajukan beberapa pertanyaan kepadanya, dia tidak menjawab apa-apa. Pikiranya lagi blank. Lalu dia bergumam, "Mahal sekali, ya?"

Saya terdiam. Pendidikan memang mahal, apalagi bagi orang-orang yang kurang beruntung seperti Bapak ini. Entahlah, saya menjadi kurang bersemangat melakukan wawancara.

Kekerasan Berbalut Pendidikan

Mulyoto

Para siswa senior, para guru pembina harus waspada. MOS membuka peluang munculnya kekerasan. Meski kadang kekerasan itu kadang dibalut dengan kata-kata manis: untuk mendidik, untuk membina, untuk mendisiplinkan ataupun untuk melatih mental.

Bukan maksud saya untuk menolak MOS. Saya hanya setuju bhawa MOS harus steril dari kegiatan yang bernuansa otoriter dan pemaksaan, baik secara fisik maupun mental.

Era sekarang itu era demokrasi. Era yang justru menghargai keterbukaan, keberanian berpendapat, dan keberanian mengembangkan kreativitas. Adik-adik Anda harus Anda didik untuk jadi anak yang berani, dan bukan penakut. Apalagi yang serba pasrah untuk melakukan perintah. Justru dialog harus dikembangkan.

Ini sering saya tehaskan dalam setiap kali MOS. Meski di lapangan sering kurang direspons, saya tidak lelah-lelahnya dan tidak akan bosan untuk tetap berteriak: hindari kekerasan.

Mungkin ada anggapan, saya terlalu demokratis. Atau terlalu lemah dalam melakukan proses penggemblengan. Ada celetuk, bahkan, "wah, nggak seru Pak!" Tapi, saya tetap yakin bahwa MOS bukan soal seru apa tidak. Tetapi soal, bisa enggak kita menampilkan model pembinaan yang humanistik, elegan, kreatif, dan bukan pembinaan yang berbau militeristik.

Sekedar mengingatkan, kekerasan dalam MOS sejatinya tidak lepas dari jerat hukum. apalagi yang berdampak pada jatuhnya kurban. Bisa terkena pasal penganiayaan, maupun kelalaian.

Semoga kita bisa menjalankan peran ini dengan baik.