Minggu, 04 Januari 2009

Emang, Guru Itu Burung

MULYOTO

Saya sangat bangga kalau ada anak didik saya, siswa saya atau orang yang saya kenal menulis dan dimuat di media massa. Saya akan membaca tulisan itu dan selalu memberi apresiasi positif. Minimal, saya akan menegur dan mengucapkan selamat. Bagi saya, keberhasilan menulis di media massa menunjukkan semangat untuk menjadi seorang penulis.

Kali ini, saya perlu angkat topi yang setinggi-tingginya pada anak-anak SMA Al-Multazam, yang telah menulis di Radar Mojokerto pada Rubrik Koran Sekolah. Tulisan itu enak dibaca. Terasa mengalir dan sangat ringan. Isinya adalah tentang sosok guru yang bagaimana yang diinginkan oleh siswa. Yaitu guru yang tidak ngebosenin, yang metodenya variatif dan menyenangkan. Siswa tidak suka terhadap guru yang hanya monoton dan (maaf) ngoceh doang.

Maka, tulisan feature cenderung opini itu pun berjudul: "Guru Ngoceh Terus, Bosen Ah!!!". Saya geli, agak kaget, dan sedkit was-was membaca judul ini. Kalo guru bisa ngoceh, emang guru itu burung, ya?

Saya was-was kalo ada guru yang tersinggung. Apapun yang dilakukan guru, apa pun metodenya, bagaimana pun performansinya, niatnya hanya satu anakku: ingin anak-anaknya mendapatkan ilmu yang diajarkannya. Jadi, mustahil, ada guru yang pantas disamakan dengan burung.

"Ah, ini kan bahasa jurnalistik. Judul yang provokatif dan terkesan menghina itu mungkin dibuat oleh redaksi koran, tanpa ada maksud menghina guru," itulah kata hati saya menghibur diri. Dan saya yakin, tidak ada siswa saya yang dengan sengaja melakukan penghinaan atas gurunya. Semoga saja seperti itu

Sekali lagi, guru akan merasa senang menyerahkan segenap ilmunya kalau siswa memang membutuhkan, tapi guru akan merasa berat untuk berjalan ke sekolah ketika membayangkan ana-anak didiknya akan cuek dan mengacuhkannya. Kita semua paham, guru manusia biasa, tapi bukan burung yang bisa ngoceh!

Tetap semangat!

Rabu, 24 Desember 2008

Olimpiade Fisika tingkat nasional untuk SMA

Ada info menarik bagi siswa SMA sederajat dari ITS. Yaitu Olimpiade Fisika tingkat Nasional 2009. Info lengkapnya klik di sini: http://www.its.ac.id/pengumuman/poster%20pekan%20fisika_.jpg
Ikut ya!

Kamis, 04 Desember 2008

Sepotong Surat dari Porong


MULYOTO

Surat ini kutujukan buat siapa saja yang masih mampu mendengar
Detak jantungnya sendiri
Mampu mendengar tembang lirih dari relung hati

Kami anak-anak Jatirejo, Renokenango, Siring, dan desa-desa yang
Kena luberan lumpur panas
Apa salah kami hingga sekolah, rumah dan tempat bermain kami tenggelam

Apa salah kami,
Pagi-pagi kami melihat semuanya lenyap
Tinggal bayang-bayang kenangan yang bikin kami hilang

Apa salah kami?
Hingga burung-burung gagak berputar-putar
Di atas desa kami
Dengan suaranya yang serak?
Sedang kami hanya mampu melihatnya dengan penuh tanda tanya

Sepotong surat ini,
Kukirim buat Bapak Presiden
Yang terhormat

Mohon kiranya berkenan
Memberi solusi
Atas apa yang menimpa kami

Kami anak-anak adalah generasi sah negeri ini
Yang berhak hidup layak
Tidak seperti di pengungsian yang kotor dan lembab

Bapak Presiden,
Lihatlah, demi cinta kami kepada Bapak,
Kami tidak rela foto bapak tenggelam juga dalam lumpur
Bapak juga mencintai kami, bukan?
Kami adalah anak-anak pemilik sah negeri ini

Mengembangkan Pariwisata Ramah Lingkungan di Pacet

Oleh Mariatul Qibthiyah
Siswi Kelas X SMA Al-Multazam

Pacet, merupakan salah satu daerah di Mojokerto yang terkenal dengan pariwisata ramah lingkungan. Antara lain Taman Ubalan, Pemandian Air Panas, dan Air Terjun Coban Canggu. Tidak hanya objek pariwisata itu saja, tetapi pemandangan dan suasana alamnya yang sejuk dan asri membuat orang tertarik untuk mengunjunginya.

Memang, tempat wisata itu cocok buat refreshing, penghilang rasa jenuh, atau seringkali sebagai tempat berkemah dan outbond bagi para pelajar.
Tapi, kini ketertarikan pengunjung terhadap objek wisata pacet menurun. Mengapa demikian? Hal ini disebabkan oleh kurangnya perhatian pemerintah dan kesadaran masyarakat terhadap kelestarian alam tersebut.
Ubalan, salah satunya. Objek pariwisata tersebut memang dulunya penuh dengan wisatawan. Tapi, sekarang pengunjung pada hari biasa hanya berkisar sebanyak 10-50 orang per hari.
Yang menyebabkan berkurangnya pengunjung adalah wahana permainan yang berkurang dan tidak terawatnya pemandangan. Seperti kolam renang yang kotor dan permainan air yang banyak rusak. Begitu pun Air Terjun Coban Canggu yang sekarang menjadi salah fungsi. Objek pariwisata ini kebanyakan dipenuhi oleh pemuda-pemudi yang berpacaran atau pun berhubungan seks.
Ditambah lagi dengan penebangan pohon secara liar dan pembakaran hutan yang menyebabkan hutan menjadi gundul. Memang, penebangan pohon bertujuan untuk membuka lahan baru untuk pembangunan villa. Tetapi dengan adanya seperti itu malah membuat paru-paru dunia menjadi tak berfungsi karena tidak diadakan reboisasi atau tebang pilih.
Akibatnya terjadilah berbagai bencana alam karena daya resap air pada pohon berkapasitas kecil. Seperti longsor yang terjadi sekitar 5 tahun silam yang memakan banyak korban. Tidak cukup sampai di situ, tetapi juga mengakibatkan banjir lumpur yang meluap sampai daerah Sooko dan sekitarnya.
Untuk itu, pemerintah seharusnya turut campur tangan dengan adanya masalah seperti ini. Tetapi, masyarakat juga harus turut terlibat dalam melestarikan lingkungan hidup.
Pemerintah sebenarnya mempunyai banyak program tentang pengembangan wisata di Mojokerto. Pemandian Air Panas misalnya, kini pemerintah berusaha dengan maksimal untuk memperbaiki wanawisata tersebut pasca longsor.
Selain itu, pemerintah juga mempunyai rencana untuk membangun “Jatim Park 3” di Desa Cembor, Pacet. Yang lebih mengutamakan nilai natural alamnya dan ditambah dengan wahana permainan seperti Jatim Park lainnya.
Ini merupakan berita hangat bagi masyarakat Mojokerto sendiri karena apabila program tersebut terlaksakan, maka akan membawakan pendapatan yang sangat besar sekaligus memperkenalkan Mojokerto kepada masyarakat luar bahwa Mojokerto merupakan kota pariwisata.
Ada juga rencana pembangunan wisata air bernama Arung Jeram sepanjang 2-3 km di aliran Kali Kromong. Sungguh menarik bukan ? Tetapi, semua rencana itu masih dalam tahap “Pembuatan Proposal”.
Memang banyak sekali kendala-kendala dalam pembangunan pariwisata tersebut. Antara lain memerlukan dana yang cukup besar dan Sumber Daya Manusia yang kurang mendukung.
Alangkah baiknya apabila terdapat “Kelompok Sadar Wisata” yang menarik kesadaran masyarakat terhadap Pariwisata Hijau Pacet. Seperti aktivitas ramah tamah terhadap wisatawan lokal dan asing, penjualan bahan makanan yang higienis, perawatan kebersihan lingkungan, dan kelestarian alam.
Dengan adanya perhatian lebih dari pemerintah dan kesadaran masyarakat akan mendukung terwujudnya pembangunan pariwisata ramah lingkungan. “Sadar wargaku, lestari alamku”.

Mencari Ikon Baru untuk Mojokerto

Risyda Zulfiyatush Sholihah
Siswa Kelas XI SMA Al-Multazam

Mojokerto adalah salah satu daerah yang berada di Propinsi Jawa Timur. Sebuah daerah yang tidak terlalu besar tetapi pernah meraih Adipura. Meskipun tidak terlalu besar, tidak disangka kota ini memeiliki potensi besar sebagai pengembangan pariwisata dalam negeri.
Konon, Mojokerto terkenal sebagai “Kota Onde – Onde”. Hal itu dikarenakan makanan khas Mojokerto adalah onde–onde. Selain itu, masyarakat daerah lain mengenal bahwa onde–onde itu lahir dari Mojokerto. Jadi sudah selayaknya onde–onde dijadikan sebagai ikon Mojokerto.
Tetapi pada kenyata-annya pada saat ini, seiring perkembangan zaman onde–onde sudah terkikis keberadaannya. Kentucky, pizza, spaghetty, hamburger dan lain – lain adalah sebagian contoh dari beribu makanan asing yang telah menggeser posisi onde – onde.
Hal itu sudah tidak bisa disangkal lagi karena kebanyakan masyarakat terutama remaja akan merasa bangga kalau mereka dapat atau pernah mengkonsumsi makanan–makanan asing tersebut daripada onde – onde yang notabenenya merupakan ikon daerah sendiri.
Hal ini memang kecil kelihatannya, tetapi apabila hal itu terus dibiarkan maka secara berangsur–angsur kebanggaan kita akan ikon onde–onde akan terkikis dan lama kelamaan akan menjadi hilang.
Memang tidak seharusnya kita menutup diri dari budaya asing dari segi apapun tetapi alangkah arifnya apabila sebagai generasi muda bangsa dapat mengontrol diri untuk mempertahankan ikon Mojokerto.
Hingga kini ikon Mojokerto “Onde–Onde” hanya tinggal namanya saja, tanpa ada kebanggaan yang terkandung di dalamnya. Baru –baru ini muncul isu ikon baru untuk Mojokerto, yaitu Mojokerto sebagai “ Kota Sepatu”. Hal ini dikarenakan kebanyakan para wirausahawan di Mojokerto membuka usaha industri sepatu sehingga kini Mojokerto terkenal karena produksi sepatunya.
Tetapi ikon “Kota Sepatu” bagi Mojokerto agaknya kurang tepat karena sepatu di Mojokerto belum mempunyai ciri khas. Selain itu, masih banyak daerah lain yang terkenal karena sepatunya. Misalnya Sidoarjo, Surabaya, dan Jombang. Bahkan kota tersebut lebih besar dan lebih terkenal akan produksi sepatunya daripada Mojokerto. Dengan demikian, “Kota Sepatu” sebagai ikon Mojokerto sebenarnya kurang tepat karena hal ini tidak menampakkan kekhasan dari Mojokerto. Hal ini dapat dijadikan nilai minus bagi Mojokerto.

Ikon Baru
Ikon adalah suatu lambang yang mengandung nilai kebanggan yang tersirat di dalamnya. Jadi apabila ingin mencari ikon bagi Mojokerto maka sudah seharusnya kita menelaah atau mengambil dari apa yang telah dimiliki oleh Mojokerto.
Sampai saat ini Mojokerto terkenal sebagai daerah yang menjadi pusat Kerajaan Mojopahit. Kerajaan yang pernah jaya menguasai Nusantara di bawah kepemimpinan Hayam Wuruk dan patihnya, Gajah Mada. Trowulan sebagai pusat kerajaan Mojopahit tentunya memiliki nilai historis yang tinggi. Dari Trowulan inilah nantinya dapat dikembangkan sebagai wisata budaya di Mojokerto. Karena selain memiliki nilai historis yang tinggi, masyarakat di Indonesia bahkan dunia mengenal bahwa pusat Kerajaan Mojopahit itu dulunya ada di Mojokerto. Jadi dari sini dapat disimpulkan bahwa Mojokerto mendapatkan ikon baru yaitu “Mojokerto sebagai Wisata Mojopahit”.
Di daerah Trowulan banyak sekali masyarakat yang menjalani usaha sebagai pemahat patung. Jika dilihat dari sisi ekonomi, tentu ini akan turut menambah devisa Mojokerto.
Tetapi dalam segi pariwisatanya, tentu hal ini merupakan fenomena yang bagus. Dari kenyataan yang ada, para pemahat patung tersebut memang mempunyai andil yang besar bagi majunya wisata majapahit Mojokerto karena dulunya Mojopahit adalah kerajaan hindu. Tetapi banyak patung – patung pahatan mereka yang dikirimkan ke luar jawa atau bahkan ke luar negeri. Kebanyakan dari mereka mengirim patung – patung tersebut ke Bali. Dan di Bali, patung – patung tersebut dikumpulkan untuk mengadakan pameran budaya Mojopahit.
Padahal pada kenyataannya, para pemahat patung masyarakat Bali itu tidak bisa memahat patung sebagus apa yang telah dipahat oleh orang Mojokerto. Hal ini dapat membahayakan bagi Mojokerto dari segi apapun. Dari segi devisa, Mojokerto akan kehilangan kesempatan untuk dikenal dan diakui oleh masyarakat dunia sebagai sentral Kerajaan Mojopahit. Sehingga itu dapat meminimaliskan para wisatawan asing maupun wisatawan domestik yang ingin mengetahui tentang Mojopahit.
Dari segi budaya, tentu hal itu mempunyai dampak negatif yang besar karena secara tidak langsung budaya itu kan hilang dan tamatlah ikon “Mojokerto sebagai Wisata Mojopahit”.
“Hingga kini ikon Mojokerto “Onde–Onde” hanya tinggal namanya saja, tanpa ada kebanggaan yang terkandung di dalamnya. Baru –baru ini muncul isu ikon baru untuk Mojokerto, yaitu Mojokerto sebagai “ Kota Sepatu”. Hal ini dikarenakan kebanyakan para wirausahawan di Mojokerto membuka usaha industri sepatu sehingga kini Mojokerto terkenal karena produksi sepatunya.”
Dalam rangka mengembangkan wisata Mojopahit, alangkah baiknya apabila pemerintah mau mengulurkan tangannya bagi para pemahat patuung tersebut. Misalnya dengan cara mengumpulkan para pemahat kayu dalam satu forum dan dari hasil pahatan tersebut akan diadakan pameran patung yang identik dengan budaya Indonesia. Program ini tentunya memiliki banyak dampak positif misalnya para pemahat patung tersebut akan merasa terbantu dari segi ekonomi kehidupan dan dalam diri mereka nantinya akan muncul rasa kebanggaan tersendiri karena mereka ikut andil dalam melestarikan budaya Mojopahit yang dibanggakan oleh Mojokerto.
Dari segi pemerintah pun memiliki dampak yang positif juga. Misalnya pemerintah dapat turut andil dalam memecahkan masalah pengangguran karena para pemahat patung tersebut tentunya akan merasa dipandang dan diperhatikan apabila mereka dikumpulkan dalam suatu lembaga yang bergerak dalam kesenian pahat memahat.
Jadi mereka akan merasa bangga dan apabila mereka merasa bangga maka akan tumbuh kreativitas yang lebih menarik lagi dan akan tercipta keindahan untuk mempercantik peninggalan Mojopahit tersebut. Selain itu dapat juga menambah pemasukan bagi pemerintah daerah Mojokerto karena dari patung – patung yang telah mereka pahat dapat dikumpulkan dan dapat diadakan pameran patung. Dari pameran itulah akan banyak para wisatawan baik itu wisatawan domestik maupun wisatawan asing yang berkunjung untuk melihat pameran patung tersebut.
Dengan demikian, ikon Mojokerto yang sesungguhnya adalah Wisata Mojopahit karena tidak ada daerah di bumi pertiwi ataupun di daerah belahan dunia yang lain yang memiliki peninggalan Kerajaan Mojopahit yang lebih tinggi dari Mojokerto.
Bagaimana pendapat Anda? []