Jumat, 08 Mei 2009

Pelatihan LPIR di SMP 5 Kota Mojokerto

MULYOTO

Kemarin (Jumat, 8 Mei) saya menjadi narasumber dalam pelatihan LPIR bagi siswa SMP se-Kota Mojokerto di SMP Negeri 5. Pesertanya adalah para siswa anggota tim LPIR SMP di Kota Mojokerto.
Bagi saya, ini adalah pertama kali. Biasanya, saya hanya membimbing sekelompok siswa dari suatu sekolah. Tapi senang juga. Peserta nampaknya sudah siap dengan konsep karya tulis masing-masing.
Satu prinsip saya, menulis -termasuk karya tulis penelitian- adalah kerja praktik. Saya tidak boleh terlalu banyak berteori. Saya hanya memantapkan semangat para peserta, lalu mencoba memberikan trik-trik praktis cara melaksanakan penelitian. Kemudian justru para peserta yang saya minta mempresentasikan konsep metah karya tulisnya. Di sinilah para siswa terlibat aktif.
Menurut drh. Wiwiek Herwiningtyas, guru SMP TNH yang menggagas acara ini, kegiatan ini dilaksanakan dalam mempersiapkan anak-anak Mojokerto dalam ajang bergengsi LPIR yang digelar Depdiknas. "Selama ini, Kota Mojokerto belum banyak berbicara dalam event bergengsi ini," ungkapnya.
Melalui pembinaan yang terarah dari Dinas P dan K Kota Mojokerto, diharapkan, nantinya ada beberapa siswa yang masuk final di Jakarta.
Kegiatan ini juga berlanjut dengan pembinaan lanjutan dan presentasi karya tulis untuk menetapkan tiga juara tingkat kota.
"Sebagai motivasi, tiga besar peserta di tingkat kota nanti juga akan mendapat hadiah. Tapi semua peserta dikirim ke panitia LPIR Jakarta," kata Bu Wiwiek.

Minggu, 04 Januari 2009

Emang, Guru Itu Burung

MULYOTO

Saya sangat bangga kalau ada anak didik saya, siswa saya atau orang yang saya kenal menulis dan dimuat di media massa. Saya akan membaca tulisan itu dan selalu memberi apresiasi positif. Minimal, saya akan menegur dan mengucapkan selamat. Bagi saya, keberhasilan menulis di media massa menunjukkan semangat untuk menjadi seorang penulis.

Kali ini, saya perlu angkat topi yang setinggi-tingginya pada anak-anak SMA Al-Multazam, yang telah menulis di Radar Mojokerto pada Rubrik Koran Sekolah. Tulisan itu enak dibaca. Terasa mengalir dan sangat ringan. Isinya adalah tentang sosok guru yang bagaimana yang diinginkan oleh siswa. Yaitu guru yang tidak ngebosenin, yang metodenya variatif dan menyenangkan. Siswa tidak suka terhadap guru yang hanya monoton dan (maaf) ngoceh doang.

Maka, tulisan feature cenderung opini itu pun berjudul: "Guru Ngoceh Terus, Bosen Ah!!!". Saya geli, agak kaget, dan sedkit was-was membaca judul ini. Kalo guru bisa ngoceh, emang guru itu burung, ya?

Saya was-was kalo ada guru yang tersinggung. Apapun yang dilakukan guru, apa pun metodenya, bagaimana pun performansinya, niatnya hanya satu anakku: ingin anak-anaknya mendapatkan ilmu yang diajarkannya. Jadi, mustahil, ada guru yang pantas disamakan dengan burung.

"Ah, ini kan bahasa jurnalistik. Judul yang provokatif dan terkesan menghina itu mungkin dibuat oleh redaksi koran, tanpa ada maksud menghina guru," itulah kata hati saya menghibur diri. Dan saya yakin, tidak ada siswa saya yang dengan sengaja melakukan penghinaan atas gurunya. Semoga saja seperti itu

Sekali lagi, guru akan merasa senang menyerahkan segenap ilmunya kalau siswa memang membutuhkan, tapi guru akan merasa berat untuk berjalan ke sekolah ketika membayangkan ana-anak didiknya akan cuek dan mengacuhkannya. Kita semua paham, guru manusia biasa, tapi bukan burung yang bisa ngoceh!

Tetap semangat!