Kamis, 14 Agustus 2008

Puisi di Hari Kemerdekaan

Mulyoto

Di sepanjang Jl. nawawi
Hingga majapahit di pusat kota
Ketika bendera berkibar-kibar berderet-deret
Ada deru dari tiupan angin dingin musim kemarau
Aku mash bisa mendengarmu
sayup-sayup ketika teriakan merdeka membahana

Kau kini tinggal tulang-tulang diliputi debu, kata Chairil Anwar
Namun engkau adalah kepunyaan kami
Biarlah jam dinding berdetak
Seperti detak jantungku

Engkau tetap kukenang
hanya dengan menundukkan kepala
dan menggemuruhkan dada

Hanya ini yang kubisa
menulis puisi tanpa sistematika
tanpa jiwa (?)

Ah, pahlawanku
aku tahu, kau tak berharap apa-apa
tapi aku hanya bisa berdoa
semoga Allah menempatkanmu di dalam rengkuh kasih-Nya
Amin

Meredeka!

Tidak ada komentar: